Filed under: ReNunGaN Santaiiii.....
APA
YANG dibicarakan saat kita bicara tentang cinta? Demikian tulis Raymond Carver
dalam salah satu
cerpennya yang paling monumental, ‘What We Talk About When We Talk About Love?
Ketika bicara tentang
cinta, ternyata kita juga membicarakan hal esensial lain dalam diri dan hidup.
Cinta adalah drama
hidup dan manusia itu sendiri. Khazanah yang dihasilkan manusia tentang cinta
juga sudah begitu
kaya, sampai-sampai barangkali semua ruang dalam diri manusia sebenarnya
dipenuhi cinta, tak
ada sisa lagi. Bahkan siapa pun kini rasanya begitu akrab dengan
ungkapan-ingkapan tipikal
seperti ‘atas nama cinta’; ‘disebabkan oleh cinta’; termasuk yang konyol,
seperti ‘cinta ditolak
dukun bertindak.’
CINTA adalah unsur yang sudah ada
dalam diri dan hidup manusia, karena itu manusia memang bisa bersenang-senang, menikmati, bahagia,
termasuk sesekali berjarak dan memandang cinta secara lebih kompleks, luas, utuh. Ternyata
cakupan/jangkauan cinta lebih luas dari yang dia sangka selama ini. Kita harus paham kenapa cinta
di satu sisi bisa mematikan namun di sisi lain mampu membuat kehidupan terasa lebih bermakna, lebih
menggairahkan.
Kisah Adam dan Hawa adalah cinta pertama yang
muncul di dalam diri manusia;
orisinal, sekaligus rentan karena tanpa pengalaman, namun akhirnya mewariskan banyak pengetahuan dan nilai
pada kita keturunannya. Persaingan cinta Habil dan Kabil, meskipun tragik, justru melahirkan sejarah
yang begitu jelas, antara lain pada periode ini untuk pertama kalinya seorang manusia bersaing,
membunuh dan mengubur dengan sesama. Cinta ’segitiga’ Ibrahim, Sarah, dan Hajar mengajarkan para
kekasih untuk tulus; sementara kisah Yusuf dan Zulaikha
mengajari manusia agar bisa
dengan jernih membedakan mana cinta dan mana nafsu (seks, syahwat).
Musa dan Shafura membuktikan
bahwa cinta butuh heroisme; sedangkan hubungan Muhammad dan Aisyah menjelaskan betapa cinta harus dirawat
dengan ketelatenan, peka, termasuk teguran yang dilakukan dengan baik dan pantas.
Cinta kepada Allah (Tuhan) baru
satu di antara begitu banyak kategori dan definisi cinta, yang sering perbedaan satu sama lain begitu
tipis atau bahkan kadang-kadang sulit dikenal dan dipahami gejalanya. Cinta karena Tuhan dalam
filsafat masuk kategori agape, cinta altrusitik tanpa pamrih,spiritual. Selain
agape ada banyak jenis cinta lain; yang umum dikenal adalah eros dan philia,
namun ternyata masih ada ludus,
storge, pragma, mania, juga xenia—semuanya butuh penjelasan mendalam dan jelas. Itu baru dari satu
ranah. Khazanah sufisme melahirkan ishq (cinta bergelora pada Allah).
Jenis lain, misalnya cinta
seseorang pada sahabat, sesama manusia, negara, benda tertentu,
aktivitas, suasana, atau
peristiwa, termasuk bagaimana cinta bisa tumbuh dan mati—semua itu
belum terjelaskan.
ANDRÉ COMTE-SPONVILLE, seorang
filosof kontemporer Prancis, di dalam bukunya yang bersahaja, The Little Book of Philosophy (2004)
menegaskan, ‘Cinta adalah subjek yang paling menarik.’ Niscaya. Tak perlu dibantah lagi. Cinta bisa membuat
seseorang hidup, sengsara, atau mati; menyebabkan legenda dan mitos terus bertahan,
diinterpretasi, dimaknai kembali. Semua orang boleh membicarakan cinta, dengan versi masing-masing.
Sedikit mengutip Ibn Qayyim
Al-Jauziyah: ‘Siapa yang tidak mau mencicipi manisnya
cinta tidak akan bisa menikmati
kehidupan.
1 Comment so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
alangkah indahnya jika cinta kita kepada siapapun mampu memberikan perubahan pada kehidupan ini. cinta yang terpancar abadi dan suci mampu mempengaruhi seperti magnet yang mampu menarik besi. begitupun cinta, mampu memberikan perubahan. dengan cinta kita ada, dengan cinta alam ini akan damai.
cyber 08.28.06 @ 11:27 pm