Coz I`m a Sun Flower


Surat Dari FaudziL Adhim
July 31, 2006, 9:59 pm
Filed under: SemaNgaT koe,,

Assalamu’alaikum,

Tak pernah ada pelatihan yang sanggup mencetak seorang manusia yang paling
berbakat sekalipun untuk menjadi penulis tangguh dalam waktu hanya beberapa
jam. Apalagi dengan pertemuan yang rasanya lebih tepat disebut kuliah umum
daripada workshop.

Sempat saya membayangkan tentang pelatihan menulis, sembari mengangankan
bagaimana caranya, ketika saya membaca buku Pat Schneider bertajuk Writing
Alone yang bagus itu. Saya sempat kirim SMS ke Asma Nadia. Bukan tentang
poligami, meski malamnya sempat berdiskusi seru dalam perjalanan Senayan ke
rumah beliau.
Saya kirimkan SMS tentang bukunya Pat ini, sayangnya beliau mendapati buku ini
telah tiada lagi di Critique. Sesudah itu, sebelum sempat membalas SMSnya, saya
keburu melompat-lompat ke sudut-sudut kampung dan pada akhirnya ditarik oleh
Teh Pipiet untuk melawat ke negeri Musa –yang membuat saya sempat menangis
ketika di Sungai Nil tak kutemukan Musa. Hanya Fir’aun dan Cleopatra yang masih
bercerita di sepanjang Sungai Nil.

Ah, Taufik. Engkau benar sekali, dan kerap aku harus sedih ketika mendapati
saudara-saudara kita yang tidak menggenggam kesadaran bahwa penulis paling
piawai sekalipun tak akan sanggup menyulap manusia paling berbakat untuk
menjadi penulis hebat dalam sekejap.

Tetapi ada yang satu yang kupercaya, dan di Bumi Kinanah, itu yang selalu
kuulang-ulang dan kuulang-ulang seolah tak ada bahan yang lebih menarik kecuali
berbincang tentang maa bin anfusihim. Ya, letaknya memang pada jiwa. Ketika Teh
Pipiet bercerita sepanjang perjalanan tentang gundah hatinya atas anak-anak
muda
yang tiba-tiba dengan gagah merasa dirinya telah menjadi pahlawan hanya karena
ada satu karyanya diselipkan dalam sebuah antologi, dan berbekal karya yang
terselip itu telah dengan penuh "percaya diri" menggebrak meja
penerbit dan
bertubi-tubi menghujani tanya dengan nada menekan kepada editor, lagi-lagi
pikiranku terusik: maa bi anfusihim. Apa-apa yang ada pada jiwa.

Jika jiwa telah terusik dan terbangkitkan untuk melakukan sesuatu lewat tulisan
–bukan semata untuk menulis– rasanya aku punya cukup keberanian untuk
bermimpi tentang suatu masa yang entah kapan datangnya, ada sebuah karya yang
akan mengubah dunia. Betapa pun tipisnya. Dan di Mesir, banyak aku berharap
kepada kalian yang –segala puji bagi Allah– bertabur ilmu. Di sini, dengan
pena yang kering dari ilmu, aku mencoba menulis. Dan aku berharap sungguh,
ujung penamu kelak akan mengantarkan taufik, mengantarkan cahaya sebagai
tergambar dalam namamu –sebagaimana aku senantiasa berharap ujung dari setiap
tulisanku adalah dzalikal fauzul ‘azhim.

Belum selesai, Taufik…. Belum selesai. Suatu saat ingin aku bawa Pat
Schneider
dengan Writing Alone-nya. Bukan orangnya, tetapi cara ia menyenangat manusia
menjadi penulis-penulis yang mampu meramu setiap kata berangkai menjadi sihir
yang memukau. Bukankah di antara bayan itu sihir?

Bermimpi tentang karya yang menyengat itu, entah mengapa pikiranku selalu
terusik tentang kritik sastra. Kukatakan ini kepada Mas Gola Gong –yang
kepadanya saya belajar kesungguhan– tentang pentingnya kritik sastra –atau
lebih umum kritik tulisan. Sastra tanpa kritik ibarat sayur tanpa garam. Sastra
tanpa kritik ibarat tentara tanpa latihan. Meski sudah terampil memegang bedil,
tentara yang bertugas di barisan terdepan justru harus banyak berlatih. Kecuali
kalau kita hanya sekedar ingin menjadi komandan Koramil saja. Tidak lebih.
Kecuali kalau kita hanya sekedar ingin buku-buku kita terbit, dapat royalty
atau
setidaknya dapat tanda bahwa nama kita ada, bergemuruh tepuk tangan, dan sesudah
malam menjelang, kita pun terlelap tidur.

Banyak kuberharap pada penerbit agar tidak semata memanfaatkan bulan madu
sastra Islam. Sebab jika tidak dirawat, bulan madu itu akan segera berakhir.
Merawat itu antara lain dengan menggelar saat-saat rehat untuk berkarya dengan
menghadirkan kritik yang mencerdaskan. Bukan hanya terus memaksa mereka
berkarya dengan memperpendek usia produktifnya –karena menjadi pabrik tanpa
ada kesempatan untuk mengembangkan inovasi berpikir dan penyegaran missi.

Kekhawatiran serupa juga kurasakan ketika melihat anak-anak cemerlang itu
bermunculan dengan karyanya. Harus ada tepuk tangan di awal sebagai tanda
penghormatan dan dukungan atas kecemerlangan mereka, sekaligus sebagai cermin
bagi kita dan dorongan untuk belajar malu. Sesudah itu, harus ada yang mampu
menahan diri agar kecemerlangannya tidak habis di usia dini. Sebaliknya,
kecemerlangan di usia dini sebagai pemicu untuk melahirkan lompatan-lompatan
cemerlang yang menakjubkan, kelak ketika masanya tiba. Kelak ketika kita harus
berlapang dada melihat betapa mereka jauh lebih maju daripada kita.

Wallahu a’lam bishawab.

Wassalam,
MOHAMMAD FAUZIL ADHIM
Tengah malam di Jogja, ketika waktu berlari begitu kencang menuju Subuh.

From: fauzil adhim
Date: Tue Jul 19, 2005 9:05 pm
Subject: Taufik Munir, Gola Gong, Asma Nadia, Teh Pipiet, Kritik Sastr
DiambiL dari Milis Taufik Munir




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>