Coz I`m a Sun Flower


TANGIS SUNYI KADAFER-CERITA BERSAMBUNG
March 20, 2009, 9:11 pm
Filed under: SemaNgaT koe,,

BAGIAN 1

Nadia berdiri mematung di depan tulisan besar Kadafer Vivos Dosen-di dalam ruangan praktikum anatomi. Kadafer adalah guru kami. Nadia menterjemahkan dengan suara lantang di depan senior-senior ospek. Ia terlihat seperti pemulung saja dengan dandanannya sekarang. Rambut diikat dengan banyak pita warna-warni, baju compang-camping, sandal jepit butut dan tak ketinggalan tas besar yang dibuat dari karung bekas membuatnya lebih mirip gelandangan daripada mahasiswa kedokteran yang punya rating grade nomor wahid di Universitas Nusantara.

“Sekarang keluarkan semua isi tasmu dan sebutkan dengan lantang satu persatu,” perintah Maya, senior angkatan 2003.

Nadia mulai mengeluarkan semua isi tasnya satu persatu dengan lesu tanpa terkecuali. Huh! Sebenarnya perutnya sudah sangat keroncongan. Pagi sekali ia sudah harus rebutan mengejar bis mahasiswa, jadi mana sempat lagi ia sarapan pagi. Walhasil perut yang kosong ini pasti minta diisi dulu agar bisa semangat beraktifitas lagi. Tapi Nadia harus memaksakan diri untuk tetap bersemangat kalo tidak mau jadi santapan lezat senior-senior yang kadang kurang kerjaan itu.

“Isi tas saya, PENA, BUKU, HANDPHONE, KUNCI, KOTAK MAKANAN, MINUMAN,” teriak Nadia dikelilingi senior-senior.

“Kurang keras, ULANGI!” perintah senior Bagas.

“Maaf saya ulangi, Isi tas saya, PENA, BUKU, HANDPHONE, KUNCI, KOTAK MAKANAN, MINUMAN,”

“Bagus!” Maya mulai berkomentar.

“Jadi rupanya kamu anak mami juga yah, masih bawa bekal ke kampus.” Sindir Bagas

ANAK MAMI. Spontan hati Nadia seperti teriris pilu. Dikatakan anak mami itu kalau kita begitu dekat dengan ibu kita, setiap saat selalu bersama dan saling bermanja. Mirisnya, ia tak pernah mengenal ibunya. Bahkan semenjak ia pertama kali bisa melihat isi dunia ketika berumur dua bulan pun tak pernah ada wajah ibunya disana. Hanya nenek yang setiap hari membesarkan hatinya dan mengatakan kalau ibunya sudah pergi ke surga. Waktu kecil Nadia pernah menanyakan perihal ibunya kepada neneknya.

“Nadia kangen sama ibu, Nek. Dimana ibu?”

“Ibumu sudah ada di surga sayang, dia tenang disana.” Jawab Nenek sambil menyuapi nasi ke mulut mungil Nadia.

“Kapan Nadia bisa melihat ibu?” lanjut Nadia

“Kalau Allah yang memanggilmu.”

“Kalo gitu Nadia maunya sekarang aja dipanggil sama Allah ya, Nek. Nadia kangen banget sama ibu.” Pinta Nadia memelas dengan wajah memerah menahan tangis.

Mendengar itu, Nenek tak kuasa lagi membendung air matanya. Airmata yang sejak tadi tertahan kini tumpah berantakan. Apa yang bisa dikatakannya lagi untuk menghibur cucunya yang semakin pintar itu. Mungkin waktu yang akan menjawab semuanya. Dipeluknya Nadia erat, dan mereka menangis bersama.

“Eh kok melamun,” teriak Bagas. Sementara Nadia menunduk takut.

“Keluarkan kotak makananmu, kamu sudah lapar kan. Kamu boleh makan di tempat yang spesial.” Perintah Bagas sambil melirik ke senior-senior lainnya.

“Ha-Ha-Ha,” Teriak senior berbarengan membuat Nadia bertanya-tanya.

Nadia lalu disuruh berbaris dengan mahasiswa baru lainnya. Sebuah tirai penutup berwarna putih dibuka lebar. Ruangan gelap di depannya tampak semakin pekat oleh bau formalin yang begitu menyengat hidung. Barisan mahasiswa yang dibagi per sepuluh orang itu dibimbing masuk sambil berbaris ke dalam ruangan laboratorium anatomi.

Nadia melihat ke sekeliling ruangan asing yang baru kali ini dilihatnya. Tampak empat kadafer yang tergeletak di dalam bak berdinding porselain. Keningnya berkerut, pucat pasi melihat kadafer-kadafer yang sudah hancur berantakan. Ada buraian usus, jantung, cacahan kulit, isi perut yang sudah terporak-poranda hingga tulang-belulang kering yang sudah lapuk dimakan usia.

“Ayo pegang!”

“Bodoh kamu!”

“Ngapain masuk kedokteran? Cuma mau jaga gengsi ? Hah ! Kadafer ini guru kita…!” teriak salah satu senior cewek sembari menunjuk ke arah kadafer yang terlungkup pasrah.

“Ayo pegang lambungnya! Cari jantungnya ! Hitung gigi-giginya ! Awas kalo nggak berani!”

“Eh…nih anak malah nangis lagi. Dasar cengeng! Kalo takut nggak usah masuk kedokteran, malu-maluin tau!”

Teriakan-teriakan garang menggema di laboratorium anatomi fakultas kedokteran. Ruangan yang gelap dan pengap rupanya tak mampu menyurutkan keganasan kegiatan Ospek mahasiswa baru itu. Ruangan lab kini hampir menyerupai ladang penindasan. Ada perbedaan yang sangat mencolok antara senior dan junior. Senior bebas bertindak apapun, karena setiap perkataan senior selalu benar. Sementara sang junior harus rela menuruti perintah apa saja dari senior walaupun terkedang mangkel juga karena ulah senior yang kadang tak memandang nurani lagi.

Tampak Siou Yu, salah satu junior sedang menatapi salah satu kadafer penuh ketakutan. Itu sangat wajar, karena tubuh para kadafer memang sudah porak-poranda. Perut buyar menganga hingga tampak anggota-anggota tubuh bagian dalamnya. Sementara kulit yang membungkus bagian kaki dan tangan sudah habis tak bersisa akibat sayatan. Kini yang terlihat hanyalah tulang- belulang yang kian rapuh walaupun dibubuhi formalin setiap harinya.

Siou Yu semakin ketakutan, namun ia tetap menuruti titah sang senior. Ia menurut saja ketika disuruh memegangi tiap anggota tubuh bagian dalam kadafer dari perut yang sudah menganga itu. kemudian ia diperintahkan untuk menyebutkan satu persatu anggota tubuh yang dipegangnya dengan gugup.

“Itu ginjal bodoh…! Masa kamu nggak bisa membedakan ginjal dengan jantung sih!”caci Maya kasar.

“Memangnya biologi kamu dapat berapa, hah?” Bagas ikut menambahi cacian Maya.

Siou Yu menunduk saja, tak berani berkutik. Matanya tampak berair, namun air mata yang terus tertahan itu akhirnya bebas keluar juga dari mata beningnya. Kini ia menangis ketakutan.

Setelah semua penindasan dengan objek pengenalan pada sosok kadafer selesai, tiap-tiap mahasiswa baru itu disuruh berbaris di lapangan dan mereka baru diperbolehkan untuk makan siang bersama. Ada beberapa mahasiswa yang sempat pingsan langsung di bawa ke klinik yang terletak tak jauh dari kampus. Mata bengkak mahasiswa karena banyak menangis mewarnai acara makan siang bersama itu. Mereka tentu tidak bisa makan lahap setelah masuk ke ruang lab anatomi yang mengerikan-cukup membuat mereka syok setengah mati.

*******

Siou Yu membuka matanya pelan.Pandangan matanya masih samar-samar. Maklum saja sinar rodopsin[1] baru saja terurai sehingga mata belum bisa menangkap cahaya secara normal. Dari dalam kamar, ia mendengar suara Maminya yang melengking. Ah…sudah hal biasa kalau Maminya paling pantang melihat anak gadis yang suka bangun kesiangan.

Sejak semalam suasana rumah terlihat sibuk sekali.Mami Siou Yu menyiapkan makan malam yang meriah.Begitu bergembira menyambut perayaan Cap Go Mee.Puncaknya adalah pagi ini. Martha,adik Siou Yu sedang asyik menyusun kue bulan, pisang raja dan jeruk bali ke dalam keranjang sebagai persembahan di pulau Kemaro.Sekitar dua puluh Tongkang [2]sudah sejak semalam nangkring[3] di Benteng Kuto Besak kota Palembang. Tongkang-tongkang inilah yang akan membawa mereka sampai ke Pulau Kemaro.

Kelenteng di pulau Kemaro amatlah unik, bukan hanya karena karakternya
yang “hybrid”, namun terutama karena arahnya yang menghadap ke Qiblat,mengikuti arah makam Siti Fatimah. Gaya arsitektur campuran
Cina –Palembang – Jawa – Arab – India nampak jelas dari ornamen, patung, warna,struktur, serta detil bangunannya. Asap dupa mengepul dari batang-batanghio raksasa yang ditancapkan berjajar di poros kelenteng, mengiringi bubungan asap pembakaran kertas bertuliskan harapan,permohonan,dan doasyukur masyarakat, yang dibakar pada pagoda segi delapan beratapkubahalamasjid di ujung Qiblat pulau Kemaro.

Siou Yu lari berjinjit masuk ke kamar mandi.Langkahnya hati-hati takut terlihat oleh Maminya. Karena Mami sangat sebal melihat anaknya masuk ke kamar mandi hanya mengenakan kain handuk saja-tidak sopan katanya. Siou Yutak ingin ketinggalan Tongkang. Selesai mandi ia menghubungi Kartini, teman karibnya yang sudah bagai saudara sendiri.

“Aku tunggu di Benteng Kuto Besak ya, di garang tempat naik Tongkang, oke?” teriak Siou Yu pada Kartini dari ujung telepon selularnya.

“Oke,” jawab Kartini singkat.

*****

Mobil Siou Yu sampai di pelataran Benteng Kuto Besak. Matanya langsung mencari sosok Kartini. Sosok yang dicarinya tampak sederhana-hanya mengenakan kemeja dan rok dibawah lutut, Kartini mampu membuat banyak mata meliriknya. Bukan hanya kesederhanaannya yang memikat-tapi lebih dari itu, mata biru Kartini membuat kagum banyak mata. Sepasang mata biru yang begitu mencolok diantara ratusan mata coklat sipit khas China.

Kakek Kartini keturunanBelanda yang menikah dengan neneknya asli Palembang. Meski ayah dan ibu Kartini bermata coklat pekat, tetapi mata biru kakeknya itu kini menurun kepadanya. Ayah Kartini memiliki satu getek[4] yang dipakai sebagai sumber mata pencaharian. Kehidupan keluarga Kartini bisa dibilang sangat sederhana. Jauh dari hingar-bingar kemoderenan.

Kartini dan Siou Yu duduk dipinggir jendela. Tongkang-tongkang berjalan pelan melewati bawah jembatan Ampera. Bunyi gong dan musik-musik menggema sungai Musi. Warga yang tinggal disekitar sungai berebut ikut menyaksikan ramainya Tongkang yang dihias warna-warni itu. Teriakan-teriakan anak kecil bertelanjang dada mengoceh seadanya-tanpa beban.

“Ang Pao nyo oiiii, cino kulub,” teriak anak-anak kecil dari pinggiran sungai Musi. mencoba mencerna teriakan-teriakan tadi.

“Cino kulub?” Siou Yu sedikit tersinggung-tampak sedang mencerna teriakan-teriakan tadi.

“Ah biasalah anak-anak, yang merekatahu kalau keturunan Cina itu tidak pernah di khitan,makanya digelari Cino kulub, Anak-anak selalu berkata jujur apa adanya,” balas Kartini sambil menyunggingkan senyum termanisnya.

“Hei, apa kamu mau diramal nanti? Kami percaya kalau ramalan di pulau Kemaro sering terbukti. Biasanya peramal akan melihat peji[5]mu. Kalau cocok dengan apa yang diramalkan, dia akan bilang hap,[6]” Ajak Siou Yu.

“Ehm, Islam melarang kami mempercayai ramalan, lagipulaapa yang mau diramal dari seorang Kartini seperti aku ini,” balas kartini sopan.

“Kamu seperti encek[7], tidak suka diramal, hahaha,” Siou Yu tertawa renyah.

Tongkang sudah menepi di jembatan ponton pulau Kemaro. Mamang[8] yang mengendarai Tongkang mengikatkan tali kapal ke tongga[9] setelah Tongkang merapat.Asap hio dari gaharu besar yang berada di tengah ruangan Kelenteng Hok Tjing Bio dan di halaman menebarkan bau yang khas. Tanpa di komando warga Tionghoa langsung menuju ke altar Thien ( Tuhan yang maha Esa) lalu ke makam buyut Siti Fatimah dan ke altar Dewa Bumi (Hok Tek Chien Sin ). Mereka membakar kertas Kim Coa, kertas berisi harapan. Aroma Hio wangi langsung menusuk hidung.Hio-hio itu dipasang di altar Thien yang secara harfiah berarti langit. Namun oleh sebagian penganut Konghucu dan Buddha Thien juga disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Kartini duduk menyaksikan upacara sembahyang dari jauh. Ia duduk menyepi di pinggiran sungai. Lalu, Siou Yu datang dengan dua gelas soft drink.

“Jika suatu hari aku tak bisa mengingatmu lagi, apa kamu akan tetap mengingatku?” Mata biru Kartini menatap pekat pada Siou Yu.

“Kalau itu terjadi padaku, aku akan sungguh menyesal. Tapi, kamu adalah teman terbaik yang takpantas untuk dilupakan meski rentang waktu memisahkan kita,” Jawab Siou Yu haru.

“Kalau begitu maafkan aku tak sempat memberitahumu karena besok sudah harus berangkat ke Jeddah. Aku sudah diterima kontrak kerja disana tiga tahun. Doakan aku yah,” pinta Kartini.

“Ta-pi apa kamu serius?”

“Aku harus menjadi lebih kuat untuk keluargaku. Aku akan mengirimimu surat sesering mungkin, oke?” Kartini mengajak beradu tos.

Dengan lunglai tangan Siou Yu dipaksakan untuk menerima tangan Kartini.

“Oke.” Balas Siou Yu lesu.

******

Nadia mengambil scalpel dari dalam kantong jas putih praktikumnya. Ia kini sudah mulai terbiasa menggunakan scalpel saat praktikum, namun diawal-awal praktikum kemarin seperti ada rasa nyeri tiba-tiba menyelusup di persendiannya ketika memulai menempelkan sayatan pertama pada tubuh kadafer.

Kadafer –kadafer yang digunakan untuk praktikum kali ini masih dalam keadaan bagus. Berbeda sekali dengan kadafer yang digunakan oleh para senior ketika ospek kemarin. Kadafer yang digunakan untuk praktikum sampai 4 semester biasanya berjumlah 4 kadafer. Dua kadafer perempuan dan dua kadafer laki-laki dengan kondisi tubuh yang masih mulus. Tentu saja, kondisi tubuh yang baik akan membuat praktikum lebih alami dan mudah. Lalu bagaimana dengan kadafer-kadafer yang sudah terobrak-abrik bagian tubuhnya? Kadafer itu ada yang dikubur ada juga yang dibakar ditempat pembakaran khusus yang berada di ruangan lab anatomi. Pembakaran dilakukan oleh pak Imam, asisten khusus untuk merawat kadafer. Namun apabila tulang-tulang kadafer tergolong bagus, bisa dijadikan sebagai sample untuk praktikum-praktikum mahasiswa.

Dokter Fahri mulai menjelaskan struktur anatomi bagian Regio Cruris. Dia menunjukkan kepada mahasiswa bagaimana cara menggunakan scalpel pada sayatan articulo genu diflexi. Ini bertujuan untuk melihat Condylus femoris yaitu pembesaran pada bagian distal os femur. Tangannya tampak dengan lincah dan telaten mengikis kulit ari lalu menyayat bagian-bagian lainnya. Sementara semua mahasiswa memperhatikan dengan seksama. Selanjutnya, tampak mereka bekerja sendiri. Sayatan berikutnya pada bagian Regio qedis, Regio tibialis, Os tibia sampai pada sayatan terakhir bagian maleolus. Mahasiswa meletakkan hasil sayatan diatas wadah khusus lalu mereka mulai menggambarkan hasil yang dilihatnya ke buku laporan praktikum. Semua memang tampak sederhana, tapi sebenarnya begitu rumit. Praktikum selesai. Tampak semua mahasiswa merapikan perlengkapan masing-masing, membuka sarung tangan lalu mencuci tangan-tangan mereka dengan pembersih khusus. Setiap sel-sel hasil sayatan dikumpulkan kemudian dimasukkan di tiap-tiap toples yang telah disediakan. Mahasiswa yang sudah selesai bersegera keluar dari lab, karena dua jam kemudian mereka akan melanjutkan mata kuliah berikutnya di ruangan kelas.

Ruangan Praktek Doktek Haris, rumah sakit Cempaka, jam 10.00 pagi.

Seorang wanita hamil tua ditemani suaminya datang tergopoh-gopoh ke ruangan praktek dokter Haris. Ia merasa sudah waktunya akan melahirkan karena sudah berkali-kali ia mengalami kontraksi. Karena tidak tertahan ia sesekali menjerit sakit dan mengeluhkan perutnya yang terasa tegang dan seperti diperas. Dua orang perawat membantu si ibu dan segera membaringkannya di ranjang persalinan. Dokter Haris segera memeriksa.

“Siapa namanya, Bu? Wah baru pembukaan empat, Bu!”

“Ibu masih bisa makan, minum untuk menambah energi, dan bisa juga berjalan-jalan pelan untuk mempercepat kontraksi.”

“Nama saya Kamila. Perut sakit begini mana kuat saya jalan-jalan lagi.” Rintih si ibu.

“Karena ini kehamilan pertama, prosesnya akan lebih lama. Kita tunggu perkembangan selanjutnya saja, “ Dokter Haris memerintahkan kepada perawat untuk memindahkan si ibu ke ruangan lain sementara ia menerima pasien berikutnya.

Seorang wanita berusia sekitar 20-an datang bersama seorang laki-laki yang mendampinginya. Ia terlihat pucat dan tegang sekali. Sesekali sambil menunggu giliran masuk ruang perawatan ia tampak celingak-celinguk-seperti takut tertangkap basah sedang berada di klinik kandungan. Ketika namanya dipanggil, bergegas ia masuk bersama dengan laki-laki yang bersamanya.

“Ada yang bisa saya bantu?” dokter Haris memulai konsultasinya dengan sikap yang ramah.

“Gini Dok,saya positif hamil, baru juga sih telatnya sekitar dua bulanan. Saya tanya ke teman-teman katanya dokter bisa aborsi. Maaf, karena kami belum menikah dan orang tua kami belum tahu. Kami takut mereka malu dengan kehamilan ini,” Nona muda menjelaskan dengan terisak.

“Aduh maaf, tidak bisa semudah itu untuk melakukan aborsi. Harus ada syarat yang jelas kenapa janin di aborsi, biasanya kalau pada kasus-kasus tertentu yang bisa membahayakan si ibu janin baru akan dilakukan aborsi.” Komentar dokter haris.

“Tolonglah, Dok. Kalau bayi ini dilahirkan hilang semua masa depan kami. Berapapun saya akan membayarnya, dan tentu saja kami akan merahasiakannya.” Jawab Nona muda yang masih memohon agar ia bisa menggugurkan janin yang sedang dikandungnya.”

“Coba saya USG dulu. Ini untuk menentukan keadaan janin dan tingkat resikonya apabila anda melakukan aborsi. Tapi, tentu saja sebelumnya anda harus menandatangani surat peryataan ini, bagaimana?” jawab dokter Haris sambil menyerahkan surat peryataan khusus yang harus ditandatangi pasien.

“Iya, makasih Dok,” Nona muda menghela napas panjang, artinya kini ia agak lega dengan beban berat yang menimpanya. Ia langsung menuju ke atas ranjang periksa, bersiap untuk diperiksa.

Perawat membubuhkan gel khusus ke perut nona muda tadi. Sementara dokter Haris mempersiapkan diri di depan (Nama alat untuk USG) untuk memeriksa keadaaan janin.

“Janin anda berusia 7 minggu. Jantungnya sudah bekerja normal, mata, hidung, bibir sudah mulai terlihat.”dokter Haris mulai menjelaskan keadaan janin kepada nona muda.

“Apa anda tidak menyesal Nona, bagaimanapun juga bayi adalah anugrah terindah. Menyesal dikemudian hari tidak berguna lagi.”

Nona muda tampak sedikit bimbang. Ia sadar sudah melakukan kesalahan yang fatal, sampai hamil diluar nikah. Tapi, apakah ia akan menambahi kelengkapan kesalahannya dengan membunuh bayi tak berdosa ini? Pikiran bergelayut dalam kepalanya. Seakan beban batu berjuta-juta ton menghimpit kepalanya kini. Hampir saja nona muda ini mengurungkan niatnya, tapi dengan cepat pacarnya mengambil inisiatif-mengacaukan kebimbangan nona muda ini.

“Kami sudah sepakat, Dok. Di aborsi aja secepatnya sebelum janinnya bertambah besar. “ sergah laki-laki berbadan macho ini mantap.

“Kalau itu memang pilihan anda berdua bisa saja. Tetapi tidak bisa dilakukan di rumah sakit ini. Silahkan anda datang ke tempat praktek pribadi saya. Kita akan atur jadwalnya,” dokter Haris memberikan kartu namanya. Setelah itu membuatkan nota pembayaran biaya konsultasi yang harus dibayarkan ke kasir rumah sakit.

Perawat membersihkan gel yang masih menempel di perut nona muda tadi. Lalu bersama pacarnya-nona muda bersalaman dengan dokter Haris dan keluar dari ruang praktek dengan perasaan tenang.

Ruang Persalinan,Rumah sakit Cempaka.

“Pa, aku sudah nggak tahan lagi. Sakit banget!”teriak Kamila, sambil mengelus-elus perutnya menahan rasa sakit yang mendera.

“Sabar yah, Ma. Demi anak kita. Buah hati kita.” Bujuk Fatur, suami Kamila.

“Nanti pindahkan aku ke ruang perawatan yang VVIP yah, Pa. Aku mana bisa tinggal satu kamar dengan orang lain. Pasti nggak nyaman banget berbagi kamar mandi sama orang lain,” rengek Kamila sembari menahan sakit.

“Sebenarnya Papa sudah pesan kamar VVIP itu udah dari jauh-jauh hari. Tapi kan sekarang kondisinya tidak sesuai dengan yang kita perkirakan, Ma. Kita nggak tau kalo ternyata bayinya ada komplikasi kayak gini sehingga dilahirkan dalam waktu lebih cepat dari prediksi. Jadi, Mama terima apa adanya dulu yah. Paling cuma 2-3 hari di rumah sakit setelah itu perawatan di rumah kan lebih nyaman.”

“Ahh..Papa, diusahakan dong. Bayar kek lebih mahal jadi yang lain bisa aja dipindahkan ke kamar lain. Mama pokonya nggak mau. Belum tentu pasien yang sekamar bersih dan resik, kalau taunya dia jorok dan berpenyakitan kan nggak nyaman jadinya.” Ceracau Kamila, memaksa suaminya. Kalau sudah berkehendak memang Kamila ini sudah diajak kompromi. Keinginannya harus dituruti apapun jalannya. Kadang Fatur, suaminya menurut saja-tak ingin menambah masalah dengan istrinya itu. Maklum saja, Kamila dari kecil berasal dari keluarga berada yang hidupnya serba enak. Jadi, mana bisa diajak hidup susah, apa saja maunya yang high class. Terkadang kondisi perilaku istrinya itu yang suka bikin Fatur kesel tapi tak bisa berkutik.

“Ya sudah-sudah nanti Papa usahakan, Mama coba rilex dan buat diri Mama senyaman mungkin agar proses melahirkannya mudah.” Fatur mengusap kening istrinya.

Tiba-tiba dari luar ruangan terdengar suara agak ribut. Kebetulan letak kamar persalinan yang ditempati Kamila sekarang berhadapan dengan lobi. Sehingga dengan jelas sekali suara keributan kecil itu terdengar. Kamila dan Fatur membuka korden kamar mencoba mengintip dai jendela.

Seorang laki-laki datang membopong istrinya yang tengah mengalami pendarahan hebat. Perut buncit istrinya seakan sudah siap mengeluarkan bayi di dalam rahim istrinya itu. laki-laki yang berpakaian sederhana itu tampak gugup melihat kondisi pendarahan yang terjadi pada istrinya, ia semakin takut pendarahan itu mampu mengambil nyawa istri dan bayinya.

“Tolonglah Pak, rawat dulu istri saya ini nanti masalah dananya akan saya carikan.”

“Aduh Pak, kami bukan tidak mau menolong tapi memang ini sudah menjadi prosedur rumah sakit. Harus ada DP 2 juta, kami berjaga-jaga takut pasien yang dirawat kabur setelah mendapatkan perawatan.” Jawab perawat jaga tegas.

Laki-laki tadi tampak lemas. Kini ia bingung harus membawa istrinya kemana. Ia mana punya uang sebanyak itu. kalau saja tidak terjadi pendarahan mungkin melahirkan di bidan saja sudah cukup. Ia menatapi wajah istrinya yang semakin melemas karena kekurangan darah. Airmatanya tak tertahan lagi. Sambil menangis ia membujuk istrinya agar mau bertahan dan membawanya keluar dari rumah sakit matrealis itu.

Kito cari rumah sakit yang laen bae bu, Bapak dak mampu. Biayanya mahal nian.” Bujuk suaminya lesu. Si istri tampak menurut saja meski ia menderita sakit yang tak tertahankan. Sang suami membopong tubuh istrinya sekuat tenaga. Sementara darah menetes di mana-mana.

Hati Kamila seperti tersantuk di batu kerikil yang tajam. Baru beberapa saat yang lalu ia merengek pada suaminya minta ditempatkan di kamar yang super ekslusif. Meski kamar yang dikehendakinya penuh, ia tetap saja memaksa dengan alasan klise tidak mau berbagi kamar dengan orang lain. Ia ingat sudah berapa banyak biaya yang sudah dikeluarkan oleh suaminya untuk biaya perawatan selama kehamilan. Belum lagi biaya yang bisa dibilang wah untuk mendisain kamar cantik untuk bayi barunya itu. Kini, ia seperti tersindir hebat. Kenyamanan dan kemewahan yang dirasakannya ini jauh lebih baik bila dibandingkan dengan kondisi mengenaskan yang baru dilihatnya. Allah sudah memberikan yang terbaik untuknya, namun ia tetap merasa kurang dan sering mengeluh. Diam-diam Kamila menangis. Menangisi keangkuhannya yang semakin menjadi-jadi itu.

Fatur rupanya tak tinggal diam dengan peristiwa yang baru dilihatnya. Ia segera mengejar pasangan suami istri itu. kondisi pendarahan wanita itu semakin menjadi. Fatur membujuk sang suami agar membawa istrinya kembali ke ruang perawatan dan ia berjanji akan menanggung semua biaya perawatan untuk wanita itu. laki-laki itu memeluk Fatur erat, ini adalah pertolongan dari Allah untuknya.

******

Siou Yu menatap monitor komputer dikamarnya dengan wajah sumringah. Ini adalah email pertama dari Kartini setelah beberapa bulan mereka tak berjumpa. Wajah kerinduan tampak terpancar di sudut-sudut sketsa wajah Siou Yu.

01 Januari 2006

Hai Siou Yu. Apa kabarmu? Ehem..kuharap kamu sedang bahagia hari ini. Seperti aku sekarang. Alah,ketakutanmutentang manjikanku tidak beralasan. Mereka sangat baik padaku. Kerjaku tidak sesibuk yang kubayangkan dulu, meski nyonya rumah lumayan cerewet hehe…biarin, cerewet bisa bikin dia cepet tua.

Kadang banyak hal lucu yang terjadi disini. Seperti semalam, jam dua pagi kami semua disuruh keluar rumah. Kukira ada kebakaran, tapi ternyata cuma hujan doang. Emang sih, disini jarang bangetterjadihujan kayak semalem. Makanya mereka bilang hujan adalah air keberkahan. Kalo di Indonesia hujan udah biasa, malah kadang jadi beban buat kita. Ya gak? Trus gimana kabar Martha dan mamimu. Jangan bilang-bilang yah kalo terakhir ke rumah aku ngabisin kue bulan mamimu satu kotak. Salam untuk semua dan selalu doakan aku.

Kartini

Segera tangan Siou Yu lincah mengetekit tiap bait kata di tuts komputernya, membalas email dari Kartini.

Dear Kartini,

Kabarku baik dan pastinya aku bahagia sekali mendengar kabarmu yang berbahagia. Aku merindukanmu. Oh ya, Martha sekarang kuliah di Jepang. Biasa anak pinter, jadinya dapet beasiswa gitu. Sementara aku ikut bisnis sama Papi.Ternyata jadi anak bos itu banyak gak enaknya, gak bisa mandiri kayak kamu hiks..

Mami ngejodohin aku dengan Frans, tapi aku gak mau. Mami yang maksa, sebel banget jadinya. Kata Mami, kawin dengan Frans masa depanku terjamin. Masa sih, kamu kan kenal Frans orangnya gimana, gak nyambung banget sama aku. Tolongin gimana nih. Mami lagi bikin kue bulan, kamu mau?

Siou Yu

Siou Yu meng-klik tombol send. Email terkirim. Telepon di kamarnya berdering. Segera saja diangkatnya.

“Halo Siou Yu, Nadia nih.”

“Ada apa,Nad?”

“Loe udah belajar buat ujian praktikum besok?”

Udah, Cuma tau sendirilah soal dari dokter Hendra



[1] Sinar yang mempengaruhi penangkapan cahaya dari gelap ke terang

[2] Kapal-kapal besar yang bisa mengangkut sekitar 200 orang

[3] Menetap atau berada

[4] Perahu bermesin yang bisa mengangkut sekitar 10-15 orang

[5] Ruas jari tangan

[6] Ya atau sesuai

[7] Paman

[8] Tukang/ Supir

[9] Kayu penyangga yang biasa digunakan untuk mengikatkan tali kapal




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>