Surat Dari FaudziL Adhim
Assalamu’alaikum,
Tak pernah ada pelatihan yang sanggup mencetak seorang manusia yang paling
berbakat sekalipun untuk menjadi penulis tangguh dalam waktu hanya beberapa
jam. Apalagi dengan pertemuan yang rasanya lebih tepat disebut kuliah umum
daripada workshop.
Sempat saya membayangkan tentang pelatihan menulis, sembari mengangankan
bagaimana caranya, ketika saya membaca buku Pat Schneider bertajuk Writing
Alone yang bagus itu. Saya sempat kirim SMS ke Asma Nadia. Bukan tentang
poligami, meski malamnya sempat berdiskusi seru dalam perjalanan Senayan ke
rumah beliau.
Saya kirimkan SMS tentang bukunya Pat ini, sayangnya beliau mendapati buku ini
telah tiada lagi di Critique. Sesudah itu, sebelum sempat membalas SMSnya, saya
keburu melompat-lompat ke sudut-sudut kampung dan pada akhirnya ditarik oleh
Teh Pipiet untuk melawat ke negeri Musa –yang membuat saya sempat menangis
ketika di Sungai Nil tak kutemukan Musa. Hanya Fir’aun dan Cleopatra yang masih
bercerita di sepanjang Sungai Nil.
Ah, Taufik. Engkau benar sekali, dan kerap aku harus sedih ketika mendapati
saudara-saudara kita yang tidak menggenggam kesadaran bahwa penulis paling
piawai sekalipun tak akan sanggup menyulap manusia paling berbakat untuk
menjadi penulis hebat dalam sekejap.
Tetapi ada yang satu yang kupercaya, dan di Bumi Kinanah, itu yang selalu
kuulang-ulang dan kuulang-ulang seolah tak ada bahan yang lebih menarik kecuali
berbincang tentang maa bin anfusihim. Ya, letaknya memang pada jiwa. Ketika Teh
Pipiet bercerita sepanjang perjalanan tentang gundah hatinya atas anak-anak
muda
yang tiba-tiba dengan gagah merasa dirinya telah menjadi pahlawan hanya karena
ada satu karyanya diselipkan dalam sebuah antologi, dan berbekal karya yang
terselip itu telah dengan penuh "percaya diri" menggebrak meja
penerbit dan
bertubi-tubi menghujani tanya dengan nada menekan kepada editor, lagi-lagi
pikiranku terusik: maa bi anfusihim. Apa-apa yang ada pada jiwa.
Jika jiwa telah terusik dan terbangkitkan untuk melakukan sesuatu lewat tulisan
–bukan semata untuk menulis– rasanya aku punya cukup keberanian untuk
bermimpi tentang suatu masa yang entah kapan datangnya, ada sebuah karya yang
akan mengubah dunia. Betapa pun tipisnya. Dan di Mesir, banyak aku berharap
kepada kalian yang –segala puji bagi Allah– bertabur ilmu. Di sini, dengan
pena yang kering dari ilmu, aku mencoba menulis. Dan aku berharap sungguh,
ujung penamu kelak akan mengantarkan taufik, mengantarkan cahaya sebagai
tergambar dalam namamu –sebagaimana aku senantiasa berharap ujung dari setiap
tulisanku adalah dzalikal fauzul ‘azhim.
Belum selesai, Taufik…. Belum selesai. Suatu saat ingin aku bawa Pat
Schneider
dengan Writing Alone-nya. Bukan orangnya, tetapi cara ia menyenangat manusia
menjadi penulis-penulis yang mampu meramu setiap kata berangkai menjadi sihir
yang memukau. Bukankah di antara bayan itu sihir?
Bermimpi tentang karya yang menyengat itu, entah mengapa pikiranku selalu
terusik tentang kritik sastra. Kukatakan ini kepada Mas Gola Gong –yang
kepadanya saya belajar kesungguhan– tentang pentingnya kritik sastra –atau
lebih umum kritik tulisan. Sastra tanpa kritik ibarat sayur tanpa garam. Sastra
tanpa kritik ibarat tentara tanpa latihan. Meski sudah terampil memegang bedil,
tentara yang bertugas di barisan terdepan justru harus banyak berlatih. Kecuali
kalau kita hanya sekedar ingin menjadi komandan Koramil saja. Tidak lebih.
Kecuali kalau kita hanya sekedar ingin buku-buku kita terbit, dapat royalty
atau
setidaknya dapat tanda bahwa nama kita ada, bergemuruh tepuk tangan, dan sesudah
malam menjelang, kita pun terlelap tidur.
Banyak kuberharap pada penerbit agar tidak semata memanfaatkan bulan madu
sastra Islam. Sebab jika tidak dirawat, bulan madu itu akan segera berakhir.
Merawat itu antara lain dengan menggelar saat-saat rehat untuk berkarya dengan
menghadirkan kritik yang mencerdaskan. Bukan hanya terus memaksa mereka
berkarya dengan memperpendek usia produktifnya –karena menjadi pabrik tanpa
ada kesempatan untuk mengembangkan inovasi berpikir dan penyegaran missi.
Kekhawatiran serupa juga kurasakan ketika melihat anak-anak cemerlang itu
bermunculan dengan karyanya. Harus ada tepuk tangan di awal sebagai tanda
penghormatan dan dukungan atas kecemerlangan mereka, sekaligus sebagai cermin
bagi kita dan dorongan untuk belajar malu. Sesudah itu, harus ada yang mampu
menahan diri agar kecemerlangannya tidak habis di usia dini. Sebaliknya,
kecemerlangan di usia dini sebagai pemicu untuk melahirkan lompatan-lompatan
cemerlang yang menakjubkan, kelak ketika masanya tiba. Kelak ketika kita harus
berlapang dada melihat betapa mereka jauh lebih maju daripada kita.
Wallahu a’lam bishawab.
Wassalam,
MOHAMMAD FAUZIL ADHIM
Tengah malam di Jogja, ketika waktu berlari begitu kencang menuju Subuh.
From: fauzil adhim
Date: Tue Jul 19, 2005 9:05 pm
Subject: Taufik Munir, Gola Gong, Asma Nadia, Teh Pipiet, Kritik Sastr
DiambiL dari Milis Taufik Munir
Stories of Love, dari Cinta Klasik sampai Cinta Unik
APA
YANG dibicarakan saat kita bicara tentang cinta? Demikian tulis Raymond Carver
dalam salah satu
cerpennya yang paling monumental, ‘What We Talk About When We Talk About Love?
Ketika bicara tentang
cinta, ternyata kita juga membicarakan hal esensial lain dalam diri dan hidup.
Cinta adalah drama
hidup dan manusia itu sendiri. Khazanah yang dihasilkan manusia tentang cinta
juga sudah begitu
kaya, sampai-sampai barangkali semua ruang dalam diri manusia sebenarnya
dipenuhi cinta, tak
ada sisa lagi. Bahkan siapa pun kini rasanya begitu akrab dengan
ungkapan-ingkapan tipikal
seperti ‘atas nama cinta’; ‘disebabkan oleh cinta’; termasuk yang konyol,
seperti ‘cinta ditolak
dukun bertindak.’
CINTA adalah unsur yang sudah ada
dalam diri dan hidup manusia, karena itu manusia memang bisa bersenang-senang, menikmati, bahagia,
termasuk sesekali berjarak dan memandang cinta secara lebih kompleks, luas, utuh. Ternyata
cakupan/jangkauan cinta lebih luas dari yang dia sangka selama ini. Kita harus paham kenapa cinta
di satu sisi bisa mematikan namun di sisi lain mampu membuat kehidupan terasa lebih bermakna, lebih
menggairahkan.
Kisah Adam dan Hawa adalah cinta pertama yang
muncul di dalam diri manusia;
orisinal, sekaligus rentan karena tanpa pengalaman, namun akhirnya mewariskan banyak pengetahuan dan nilai
pada kita keturunannya. Persaingan cinta Habil dan Kabil, meskipun tragik, justru melahirkan sejarah
yang begitu jelas, antara lain pada periode ini untuk pertama kalinya seorang manusia bersaing,
membunuh dan mengubur dengan sesama. Cinta ’segitiga’ Ibrahim, Sarah, dan Hajar mengajarkan para
kekasih untuk tulus; sementara kisah Yusuf dan Zulaikha
mengajari manusia agar bisa
dengan jernih membedakan mana cinta dan mana nafsu (seks, syahwat).
Musa dan Shafura membuktikan
bahwa cinta butuh heroisme; sedangkan hubungan Muhammad dan Aisyah menjelaskan betapa cinta harus dirawat
dengan ketelatenan, peka, termasuk teguran yang dilakukan dengan baik dan pantas.
Cinta kepada Allah (Tuhan) baru
satu di antara begitu banyak kategori dan definisi cinta, yang sering perbedaan satu sama lain begitu
tipis atau bahkan kadang-kadang sulit dikenal dan dipahami gejalanya. Cinta karena Tuhan dalam
filsafat masuk kategori agape, cinta altrusitik tanpa pamrih,spiritual. Selain
agape ada banyak jenis cinta lain; yang umum dikenal adalah eros dan philia,
namun ternyata masih ada ludus,
storge, pragma, mania, juga xenia—semuanya butuh penjelasan mendalam dan jelas. Itu baru dari satu
ranah. Khazanah sufisme melahirkan ishq (cinta bergelora pada Allah).
Jenis lain, misalnya cinta
seseorang pada sahabat, sesama manusia, negara, benda tertentu,
aktivitas, suasana, atau
peristiwa, termasuk bagaimana cinta bisa tumbuh dan mati—semua itu
belum terjelaskan.
ANDRÉ COMTE-SPONVILLE, seorang
filosof kontemporer Prancis, di dalam bukunya yang bersahaja, The Little Book of Philosophy (2004)
menegaskan, ‘Cinta adalah subjek yang paling menarik.’ Niscaya. Tak perlu dibantah lagi. Cinta bisa membuat
seseorang hidup, sengsara, atau mati; menyebabkan legenda dan mitos terus bertahan,
diinterpretasi, dimaknai kembali. Semua orang boleh membicarakan cinta, dengan versi masing-masing.
Sedikit mengutip Ibn Qayyim
Al-Jauziyah: ‘Siapa yang tidak mau mencicipi manisnya
cinta tidak akan bisa menikmati
kehidupan.
Keep Your Mouth
Tadi secara gak sengaja aku mendengar pembicaraan yang memuakkan..
Tak kuduga akan jadi seperti ini riwayatnya
Suatu hari nanti, aku sendiri yang akan membawa orang yang kukasihi itu ke sebuah rumah idaman
Rumah yang memang seharusnya untuknya
AKu sebels hari ini….
Pusssiiiink
Hari ini Kacau lagiiiiiii, sungguh kacau lagiiiii,,,,,,
Aduh gak tau deh gimana nilai peer teaching ku nanti
Selalu aja salah dimata dosenku, padaha; aku dah berusaha banget,,,,,
Truuus harus gimana nih???
Swebelz
Congrats!
Emmmmm, hari ini mulai peer teaching, sempat grogi juga siiiiiihhhhhh,,,tapi untungnya lama-lamamdah bisa nguasai keadaan gthuuuuu,,,,,Wuaaaaaahhhhhhhhhh ampe Desember nih PPL, sibuknyaaa (Pastiiiiii
)
Hari ini, aku ke kampus lagiiiii dan jadi diriku sendiri, congrats!
Bahagia Itu,,,,,,
Mungkin Tuhan menginginkan kita
untuk bertemu orang yang tidak tepat
sebelum bertemu yang tepat
dan,,,,
ketika kita akhirnya bertemu dengan orang yang tepat,
kita akan tahu betapa berharganya saat itu…
datanglah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum
sebuah senyuman itu membuat hari yang gelap menjadi cerah
datanglah kepada seseorang yang dapat membuatmu berharga
karena hal itu dapat membuat dirimu
menyadari bahwa seseorang itu telah membawamu ke pintu kebahagiaan yang sempurna.
Orang yang bahagia,
tidak perlu memilki yang terbaik dari segala hal
mereka hanya membuat segala hal yng datang
dalam hidup mereka menjadi yang terbaik
merasakan bahwa apa yang mereka dapat
adalah pilihan terbaik untuk mereka
hiduplah dengan hidupmu
karena, apa yang hinggap di kehidupanmu,
kebahagiaan, cobaan, penderitaan, dan harapan, cukup membuat dirimu menjadi manusia yang sesungguhnya…..
Niii katanya Kang KahLil Gibran Choy
YANG TERBUANG DALAM RUANG GELAP TANPA SEKAT
July 14, 2006, 11:43 pm
Filed under:
PUISI
Sendiri
detik itu berlari
Mengitari
lingkaran yang itu-itu saja
Dari mula
pagi berbilang
Hingga saat
fajar menjelang
Sendiri
menyulam rasa-rasa telah mati
Mengadu
pada diri, ditemui Cuma nyeri
Sangkakala
terlalu perkasa sekedar untuk dinanti
Karena
ruang gelap menggemakan raunggan maut
Tak
kusanggup namun siap merenggut
Saat itu
segelas teh hanggat telah berubah
Menjadi
genangan darah
Aku meraba
dinding dada
Kujumpai
lubang menganga
Hitam
sedalam-dalam
Lebih dari
yang pernah kau tahu tentang apa itu dalam
Ya itulah
aku kini
Yang
terbuang dalam ruang gelap tanpa sekat
Maafkan
bila biru laut pernah memenjara hatimu
Ampuni bila
mercusuar sempat buatmu menunggu
Dari Sang Teman Jiwa,
www.damarati.blogs.com
KaMuFLase Cinta
July 14, 2006, 10:14 pm
Filed under:
My Love
Rentetan kisah jadi bayangan
Tersaruk-saruk meratap hari
Bagai kamuflase
Jiwa terjinjing asa
Mengorek rasa yang tersisa
Merajutnya jadi rindu
Tapi menyublim
Akhirnya….
Cintaku hilang
MENITI MIMPI DI RUMAH DUNIA
Wanja, Stop Out?”
mata salah satu teman saya berubah kayak ikan mas koki, waktu membolak-balik arsip SO saya.
“Ngapain?” tanya teman saya penasaran.
“Belajar nulis di Rumah Dunia.” jawab saya singkat karena memang lagi sibuk mem-fotokopi arsip-arsip.
“Gila.”celotehnya lagi.
Yup! Saya memang aneh bin gila. Jauh-jauh merantau ke selat Sunda cuma mau belajar nulis aja. Kabur dari kampus lagi hahaha! Tapi saya bahagia. Saya merasa menjadi lebih dewasa satu tingkat dari teman-teman saya. Kenapa? Karena saya mempu mengambil keputusan seberat ini untuk kemaslahatan ummat eh salah ding untuk masa depan saya.
Jangan sangka keputusan yang saya ambil ini hasilnya bisa semulus aspal dijalan raya. Pokoknya berliku-liku, penuh onak dan duri…deu! Kayak lagu aja.
Hmm, memang saya suka nulis sejak SD, tapi paling benci membaca. Lho kok? Gak tau ya, saya ngerasa aneh aja ada orang yang suka berhari-hari membaca, sampe kadang makan pun jadi males, saking asyiknya dengan buku yang dibacanya. Tapi semenjak di Rumah Dunia saya jadi sadar kalo ternyata menulis itu tidak bisa dipisahkan dari membaca. Mungkin karena buku di sana banyak kali yaa, jadi bikin saya gregetan pengen baca, hehehe!. Oh ya balik lagi neh ke persoalan semula.
Kelas lima SD saya pernah mencoba menulis sebuah artikel yang berjudul “Gara-Gara Banjir”. Artikel itu berisi pengalaman menarik saya apabila tiba waktunya banjir datangan karena air pasang. Memang rumah saya dulu dekat sekali dengan sungai Musi. Akhirnya jadilah tulisan tadi, trus..dimuat…eh..jangan asal nebak dulu ya, dengerin dulu neh kelanjutannya.
Saya menuliskan pengalaman saya itu dengan bahasa anak-anak yang sangat polos. Saya ketik sendiri sampe tangan saya bengkak-bengkak. Maklum baru pertama kalinya pegang mesin tik. Yuhuu tulisan saya selesai sebanyak 3 lembar. Dengan bangga dan penuh harap saya kirimkan tulisan itu ke majalah Ummi. Eits…tapi tunggu dulu sodara-sodara, saya juga sempet bikin surat pengantar yang nggak kalah hebohnya, isinya gini.
Om, Tante. Tulisan saya dimuat ya. Saya pengen punya uang sendiri. Ibu saya cuma jualan pisang goreng. Jangan nggak dimuat ya…
Ibu saya memang waktu itu iseng buka dagangan sederhana di depan rumah.Tapi sungguh keadaan saya waktu itu tidak begitu menderita banget, cuma dasar sayanya aja yang terlalu mendramatisir, biar tulisannya dimuat kali ya hehehe.
Satu bulan kemudian saya dapet balesan dari majalah Ummi. Duh..senengnya, saya sampe loncat-loncat kegirangan. Beragam barang-barang yang kepingin saya beli menari-nari di pelupuk mata saya. Abis saya pikir wesel sih. Eh..gak taunya sodara-sodara, hiks…hiks…saya manyun seketika. Isinya begitu mem-porak-porandakan angan-angan saya. Isinya saya masih ingat betul, simak deh!
Maaf ya, Dik! Tulisan kamu judulnya kurang menarik. Isinya berbelit-belit, yang sabar yaa…semoga Allah memberikan rizki-Nya di lain waktu.
Saya menangis sesegukan, capek-capek saya ngetik sampe tangan bengkak, tau-tau dapat balasan seperti itu. Akhirnya saya benar-benar ill fill dengan yang namanya dunia menulis. Putus asa coy! Berhari-hari saya mengurung diri di kamar, kecewa. Sampai SMA baru keinginan menulis itu muncul lagi. Saya mendapat tugas khusus untuk mengisi kolom An-Nisa di bulletin Al-Badi’u ROHIS SMUN 5 Palembang. Mulailah tulisan-tulisan saya mengalir, tapi masih untuk konsumsi pribadi aja. Akhir kelas II SMU salah satu cerpen saya yang berjudul “Sambut Aku Pagi” berhasil masuk Sabili. Wuah..senengnya. Sampe honor 150.000 yang saya dapatkan, ludes tak bersisa hari itu juga. Saya belikan barang-barang yang memang saya idam-idamkan.
Mimpi saya pengen kuliah di Jurnalistik, tapi keluarga melarang. Mereka pikir jadi penulis itu nggak berguna. Akhirnya saya malah kesasar di FKIP Fisika. Tapi angan saya tak putus di tengah jalan, ketika saya membaca buku Kiat Menulis, Annida. Saya dapati Rumah Dunia disana. Akhirnya, nyungseplah saya disana.
Saat Indah Di Rumah Dunia
Dulu sewaktu SMU saya pernah bermimpi berada di suatu tempat di mana saya begitu dekaaat sekali dengan para penulis. Pokoknya mimpi saya waktu itu keren banget, deh. Nggak ada tandingannya. Eh..ternyata sodara-sodara, mimpi saya tercapai. Rumah Dunia persis dengan mimpi saya. Lingkungan asri di kampung Ciloang, penuh pohon-pohon rindang, penuh buku, penuh motivasi dan setiap hari saya bisa ngobrol bebas dengan para penulis. Bahkan sering banget mas Gola Gong mendatangkan penulis terkenal dari Jakarta. Mulai dari penulis-penulis FLP sampe wartawan dari media lokal dan nasional pun kerap kali bagi-bagi ilmu dan pengalamannya dengan kita di Rumah Dunia. Rasanya hidup ini begitu indah. Gini, ya rasanya ketika mimpi kita jadi kenyataan. Rasanya bahagia banget!. Pantes aja di film Fantasi produksi Flying Fish ditulis besar-besar kalimat gini.
“Ketika mimpi tak datang menggapaimu, maka kejarlah ia…”
Di Rumah Dunia setiap hari pasti ada kegiatan. Senin ada wisata baca dan dongeng, Selasa ada wisata melukis, Rabu diisi dengan wisata menulis, Kamis pun ada kelas Bahasa Inggrisnya lho! Hm, Jum`at biasanya anak-anak bebas mau ngapai aja. Untuk Sabtu dan Minggu ada kelas Menulis. Di kelas menulis inilah saya belajar teknik menulis. Materi yang diajarkan di kelas menulis, mulai dari news, reportase, fiksi, non fiksi, broadcasting dan yang paling menarik kita diajarin bikin skenario film juga. Yang paling fantastik, di Rumah Dunia semuanya GRATIS.
Saya yakin setiap orang tentu bisa menulis, tapi menulis yang bermakna, mungkin tidak semua orang bisa. Menulis saya ibaratkan dengan berenang. Ya…dengan sedikit latihan semua orang juga akan bisa berenang. Tapi, untuk jadi perenang yang berhasil di kejuaran-kejuaran, seorang perenang harus tahu dulu teknik-teknik berenang yang baik. Begitu juga dengan menulis. Untuk menjadi seorang penulis yang baik, bahkan yang karyanya best seller, harus belajar teknik menulis dulu dong. Iya kan?.
Di Rumah Dunia saya dapatkan semua teknik-teknik itu.
Setiap hari yang saya lakukan adalah meniti mimpi. Berhari-hari saya membaca, berhari-hari saya berdo`a, berhari-hari saya menulis, dan berhari-hari saya membuat impian. Mas Gola Gong bilang, “Menjadi penulis itu tidak instan, butuh waktu 2 tahun untuk berhasil”. Tapi saya akan buktikan. Saya bisa kok, kurang dari dua tahun.Deu…semangatnya!.
Mungkin sekarang saya bukan apa-apa. Karya saya yang di muat di media masih bisa dihitung dengan jari. Tapi…lagi-lagi saya yakin suatu hari nanti saya bisa jadi seseorang yang saya impikan. Bukankah ketika kita berusaha dengan sungguh-sungguh, akan berhasil ?.
Kejarlah mimpimu, Kamu akan merasakan saat terindah dalam hidupmu ketika mimpimu ada di depan mata. Your Dreams come true. Mau tau banyak Rumah Dunia klik deh www.rumahdunia.net
·